Jangan Cemas

30 August 2010 | Artikel | 0 Comments

Krisis ada di hadapan kita. Apa yang kita rasakan? Krisis ekonomi saat ini menyebabkan banyak orang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibat kena PHK maka secara otomatis kehilangan penghasilan tetap. Karena kehilangan penghasilan maka tidak terpenuhinya semua kebutuhan hidup. Jika tidak terpenuhi kebutuhan hidup maka hidup menjadi menderita. Kendaraan di jual untuk bisa makan, rumah dijual untuk bisa menyekolahkan anak, dan semua bentuk penderitaan lainnya.

Apakah anda sudah merasakan bahaya yang mengancam ini? Apakah anda sudah sudah merasakan kecemasan? Kecemasan timbul pada seseorang apabila mereka merasakan atau memperkirakan adanya bahaya atau ancaman yang menghantui mereka. Seperti ketika mendekatnya waktu ujian, diundur atau diajukannya jadwal pernikahan, kehilangan pekerjaan, penyerahan jabatan kepada orang lain, menurunnya omset penjualan usahanya, ikut serta dalam pertempuran, dan kondisi-kondisi lainnya.

Kecemasan didefinisikan sebagai kondisi tegang total dan terus menerus yang menyertai seseorang disebabkan oleh perkiraan adanya bahaya yang mengancam secara nyata maupun abstrak, sehingga menyebabkan ketakutan yang tidak beralasan dan depresi psikologis dan fisiologis seseorang.

Kecemasan merupakan respon reaksioner kejiwaan terhadap suatu bahaya yang ditakuti terjadinya oleh seseorang, dan umumnya bahaya ini mengancam kepribadian yang pada akhirnya menyebabkan kecemasan yang menyeluruh.

Kecemasan yang dirasakan seseorang disebabkan oleh dua faktor penyebab, yaitu;

Pertama, kelompok faktor penyebab yang dikenal atau dirasakan oleh seseorang, seperti mendekatnya waktu ujian, atau mendekatnya waktu pernikahan, dipecat dari pekerjaan, usaha dagang yang menurun, terjun ke medan tempur, dan lain-lain. Keadaan yang seperti iniu disebut dengan kecemasan substantif.

Kedua, kelompok faktor penyebab yang tidak diketahui atau tidak dirasakan. Tipe yang seperti ini terjadi apabila seseorang merasakan adanya bahaya yang mengancam sendi-sendi kepribadiannya akan tetapi ia tidak dapat mengetahui secara pasti sumber bahaya tersebut.

Enam karakteristik kecemasan tercermin sebagai berikut :

Pertama, reaksi emosional yang mencakup rasa panik, kecewa dan takut.

Kedua, reaksi emosional yang mengiringi perasaan tak bahagia.

Ketiga, tidak adanya ancaman yang nyata atau diketahui gejalanya.

Keempat, reaksi kejiwaan terhadap masa depan.

Kelima, kecemasan selalu diiringi dengan gangguan-gangguan fisik seperti capai, detakan jantung semakin cepat dan dada terasa sesak, dan lain-lain.

Keenam, kecemasan mengakibatkan ketidakstabilan dan perubahan tingkah laku, biologis, dan fisiologis yang nyata.

Bentuk kecemasan mencakup tiga bentuk yang asasi, yaitu :

Bentuk fisik, yang tercermin dengan semakin cepatnya detak jantung, keringat yang berlebihan, gemetar, dan tidak mampu berkonsentrasi melakukan suatu pekerjaan.

Bentuk psikis, yang tercermin pada ketidakmampuan seseorang untuk menahan dan menguasai diri, cepat bereaksi terhadap sesuatu yang menimpanya, agitasi, ketakutan, tidak mampu untuk berpikir dan perhatian yang selalu bercabang (tidak dapat fokus terhadap satu permasalahan).

Bentuk tingkah laku, bentuk ini akan terlihat ketika berusaha untuk menjauhi sesuatu atau mengundurkan diri dan lari dari tanggung jawab.

Diantara etika Islam yang menjaga seseorang dari kecemasan adalah dengan berakhlak baik. Akhlak merupakan kondisi jiwa yang menghasilkan perbuatan, baik itu tercela ataupun terpuji, indah ataupun buruk. Akhlak terbuka untuk dipengaruhi pendidikan yang baik atau yang buruk. Jika kondisinya terbiasa dididik untuk mengutamakan kemuliaan, kebenaran, mencintai kebaikan, menyukai yang indah dan membenci yang buruk, maka akan menghasilkan perbuatan yang baik tanpa ada paksaan. Akhlak yang baik ini akan menjaga manusia dari perasaan cemas. Perbuatan yang baik bersumber dari sifat-sifat yang baik seperti, sabar, tabah, berani, adil, berbakti, tawakal, zuhud, tenang, damai, qana’ah, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Sebaliknya, jika akhlak belum dididik dalam pendidikan yang baik, dimensi kebaikan di dalamnya belum dikembangkan, sehingga lebih menyukai sifat yang buruk dan membenci yang yang baik, maka perkataan dan perbuatan tercela merupakan hasil dari perbuatan yang buruk itu, seperti khianat, bohong, tamak, keras qalbu, jahat, dan lain sebagainya.

Dari sini Islam memuji akhlak yang baik dan menganjurkan kaum muslimin agar mendidik dirinya dengan dengan akhlak yang baik, dan terus mengembangkannya dalam diri mereka. (dr. Sunardi)

Konsultasi kesehatan

Pertanyaan:

Ana ibu rumah tangga. Usia 20 tahun. Ana punya benjolan di payudara sebelah kanan. Ana mengetahuinya setelah melahirkan anak pertama. Kira kira itu kankerkah ? apa penyebab kanker payudara itu. Bagaimana solusinya ? bolehkah ana menyusui anak ana ? syukron.

Umi Syahidah, polokarto

085259654xxx

Jawaban

Umi Syahidah, setiap benjolan pada payudara biasanya memang membuat kaum hawa merasa khawatir akan kemungkinan terkena kanker payudara. Sebenarnya, setiap benjolan abnormal yang terdapat pada payudara dinamakan tumor payudara. Tumor sendiri dibedakan menjadi tumor jinak dan tumor ganas. Nah, tumor ganas pada payudara inilah yang kemudian disebut sebagai kanker payudara. Penyebab pasti kanker payudara belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko terjadinya kanker payudara , di antaranya adalah

1) Usia Penderita ( lebih dari 30 tahun )

2) Tidak / belum menikah

3) Tidak memiliki anak

4) Riwayat menyusui ,Riwayat menstruasi ,Riwayat pemakaian obat hormonal,Riwayat keluarga sehubungan dengan kanker payudara atau kanker lain,Riwayat pernah operasi tumor payudara atau tumor kandungan ,Riwayat pernah mendapat pengobatan radiasi di dinding dada

5) Obesitas ( kegemukan )

Yang perlu diketahui, apabila terdapat benjolan pada wanita yang menyusui, yang paling sering adalah berupa kista yang berisi susu atau disebut galaktosel. Umi perlu memonitor perubahan ukuran benjolan tersebut, apabila tidak sembuh dengan sendirinya, serta ada perubahan ukuran yang cukup bermakna maka umi perlu memeriksakan diri lebih lanjut untuk mengesampingkan kemungkinan kanker payudara. Karena meskipun kanker payudara jarang terjadi pada wanita yang menyusui, benjolan pada payudara tetap tidak boleh diabaikan. Untuk kegiatan menyusui, umi tidak perlu khawatir untuk tetap melanjutkannya.

(dr. Meti Dewi Astuti)

Leave a Reply